Travel

Main ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park di Bali

Posted on in Travel

Kalau kamu mendengar kata liburan ke Bali, apa yang muncul di benakmu? Hmmm mungkin langsung kebayang main di pantai dan pantai lagi ya. Eits, ke Bali kan nggak cuma buat main ke pantai. Masih banyak juga tempat wisata di Bali yang nggak kalah kerennya. Salah satunya, ada Garuda Wisnu Kencana Cultural Park atau yang lebih sering dikenal orang sebagai GWK.

Jujur aja sih, dari dulu kalau mau ke Bali saya suka males ke GWK. Kenapa? Karena kan belom jadi, hehehe. Yah itu pikiran saya dulu. Tapi ternyataaaa walaupun belum 100% jadi sempurna, tapi GWK ini justru sudah menjadi sebuah tempat yang penuh dengan daya tarik luar biasa. Patung Dewa Wisnu dengan Garuda sebagai tunggangannya yang menurut rencana akan selesai pembangunannya di tahun 2018 ini bakal menjadi monumen yang tingginya 121 meter, alias mengalahkan Patung Liberty di Amerika sana. Keren juga ya!

Pembangunan patung ini diprakarsai oleh seniman Nyoman Nuarta dan mulai dibangun pada tahun 2013. Karena berbagai kendala, pembangunan patung GWK sempat mandek dan akhirnya kini sudah berhasil dilanjutkan kembali.

Rencana pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana

Saat ini GWK nggak cuma dikenal sebagai tempat konser musik yang oke – karena punya area outdoor yang super luas, tapi ternyata GWK ini telah menjadi sebuah area wisata yang memiliki segmen-segmen menarik. Harga tiket yang dibayarkan di loket depan (Rp 70,000 untuk wisatawan lokal, Rp 60,000 untuk anak-anak, dan Rp 100,000 untuk wisatawan mancanegara) sudah termasuk untuk mengunjungi berbagai spot seperti mata air, patung dewa Wisnu, Plaza Garuda, dan juga aphiteater yang mempertunjukkan berbagai tarian dan atraksi tiap jamnya.

Flyer berisi jadwal pertunjukkan di Amphitheatre GWK

Setelah menaiki anak-anak tangga yang lumayan, akhirnya saya sampai di Plaza Wisnu, tempat berdirinya patung separuh badan Dewa Wisnu yang guede banget. Area plaza yang luas di sekitar patung ini membuat para pengunjung bisa duduk-duduk, berfoto atau istirahat sejenak setelah menaiki tangga.

Plaza Wisnu

Di sebelah kiri patung Dewa Wisnu, ada sebuah mata air yang disebut Parahyangan Somaka Giri. Ini adalah sebuah mata air suci yang diyakini masyarakat sekitar mampu menyembuhkan penyakit. Tidak boleh sembarangan kalau hendak mengunjungi mata air ini, harus berpakaian sopan dan perempuan yang sedang datang bulan dilarang masuk.

Mata air Parahyangan Somaka Giri

Jalan ke belakang Plaza Wisnu, ada anak-anak tangga lagi yang membawa kita ke Plaza Garuda. Nah di sinilah tempat patung kepala Garuda, tunggangan milik Dewa Wisnu berada. Area Plaza Garuda ini cukup luas sehingga pengunjung yang mau foto-foto bisa puas deh.

Plaza Garuda

Di depan Plaza Garuda, terhampar Lotus Pond yang merupakan ruang terbuka yang digawangi oleh dinding-dinding tebing kapur seluas lebih dari 4000 meter persegi. Luas banget ya! Di tempat inilah biasanya diselenggarakan berbagai acara kolosal seperti konser-konser musik baik lokal maupun mancanegara.

Karena sat kami meninggalkan Lotus Pond hari sudah mulai hujan, maka saya dan teman-teman segera pindah menuju ke Amphitheatre. Di sini adalah ruangan panggung pertunjukan yang ada atapnya, jadi aman deh hehehe. Kebetulan saat kami sampai di amphitheatre, sedan dilakukan persiapan untuk pertunjukan berikutnya yaitu Garuda Wisnu Ballet. Tarian ini menggambarkan kisah Garuda dan Dewa Wisnu. Tarian indah ini berlangsung sekitar 30 menit, sesudah itu pengunjung isa berfoto bersama dengan para pemainnya di panggung.

Pertunjukan Garuda Wisnu Ballet

Sebenarnya masih ada beberapa spot keren di GWK ini, tapi karena waktu yang mepet dan hari hujan, jadi kami nggak sempat mengeksplor lebih jauh lagi deh isi GWK Cultural Park ini. Tapi yang jelas, sangat worth the visit!

Nah, karena tempat ini sangat luas, jadi banyak acara jalan-jalan (maksudnya jalan kaki) di area GWK nih. Tips dari saya:

  1. Kenakan sepatu yang nyaman ya. Nggak usah pake high heels, ntar kecapean sendiri pas naik turun tangga, hehehe.

  2. Pakai pakaian yang nyaman dan sopan. Ketika memasuki area GWK, kita akan diberi kain untuk menutupi kaki (untuk yang memakai rok/celana pendek) dan kain ikat pinggang untuk yg pakai celana panjang. Seperti layaknya kita bertamu ke rumah orang, kita harus menghormati adat dan budaya di sini.

  3. Gunakan sunscreen (tabir surya) dan bawalah payung. Karena area GWK ini minim tanaman dan ruang terbuka, sinar matahari di tempat ini sangat ceraaah alias panas banget di musim panas hehehe. Sedangkan di musim hujan, akan ada sedikit sekali tempat berteduh. Jadi untuk berjaga-jaga sebaiknya bawalah payung dan gunakan krim pelindung kulitmu agar tidak terbakar.

Selebihnya sih, jangan kawatir soal makan dan minum, karena ada resto dan cafe di area GWK yang nyaman dan bisa jadi tempat kamu leyeh-leyeh. Ada juga toko suvenir dan kios-kios penjaja oleh-oleh di pintu keluar. Untuk pengunjung muslim, bisa juga melaksanakan ibadah solat di musholla yang tersedia.

Terima kasih team Famtrip Blogger Pesona Indonesia yag sudah mengajak saya mengunjungi tempat keren ini. Jadi nggak sabar kan ingin ke GWK lagi!

Team Famtrip Blogger Pesona Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *